Jumat, 15 November 2013


MENGUNGKAP KEPERCAYAAN MITOS MASYARAKAT TENGANAN PEGRINGSINGAN KARANGASEM BALI


Tenganan adalah suatu nama desa tradisional bahkan masih dikatakan desa terpencil yang hanya terdapat di Pulau Bali. Desa ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem sebelah timurnya Bali. Desa ini memiliki luas  917.200 hektar, sekitar 0,85%. Desa Tenganan sangat jauh, berada di belakang bukit dan untuk pergi ke sananya melewati hutan – hutan alas. Desa Tenganan adalah salah satu desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunan serta pekarangan, pengaturan letak bangunan, hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun - temurun dipertahankan. Ketika memasuki gerbang desa Tenganan, tampak jalan bebatuan begitu menghampar dan tidak beraspal. Bangunan penduduk yang masih sangat tradisional dan pagar yang memanjang nampak klasik berwarna kecoklatan karena terbuat dari tanah liat. Seperti inilah yang dinamakan benar – benar desa. Di balik keindahan desa yang menawan ini, desa Tenganan menyimpan beberapa mitos yang begitu menarik untuk diteliti. Lewat mitos, masyarakat diingatkan untuk melakukan ritual – ritual, memberikan penghormatan kepada kekuatan – kekuatan yang menciptakan perdamaian – perdamaian.

Desa Tenganan didiami oleh penduduk Bali Aga (Bali Asli) yang dipimpin oleh seorang Pemangku Adat. Di desa Tenganan terdapat seorang Kepala Desa yang bernama I Putu Suaranyeng. Beliau tinggal di desa tersebut dan sangat disegani oleh masyarakat. Masyarakat Tenganan sangat menghormati tata ruang. Apabila ada perubahan harus dilakukan dengan musyawarah bersama. “Ada aturan yang mengatur kepemilikan tanah secara pribadi dan tanah tersebut diatur dalam hak bersama”, kata Pak Putu. Dalam pemukiman terdapat enam deret rumah yang berhadapan. Ini mencirikan antara desa Tenganan dengan desa luar (bukan desa Tenganan). Pak Putu juga menjelaskan pakaian orang kaya dengan orang miskin setara, tidak ada yang membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin.
Kata bapak – bapak yang duduk di semacam gazebo, umumnya masyarakat Tenganan mayoritas bekerja sebagai petani padi, dan saat ini sebagai petani pemilik. Mereka hanya sebagai tuan tanah atau pemilik tanah dan yang mengerjakan sawah mereka biasanya orang dari luar desa Tenganan. Di sini juga terdapat kebun dan hutan yang luasnya kira – kira 79 hektar. Tetapi saat saya meneliti di sana, saya tidak menemukan sawah tempat para masyarakat bercocok tanam, mungkin tempatnya agak jauh. Yang saya temukan adalah para ibu yang berkutat menenun dengan kainnya. Hampir semua perempuan berkecimpung didalam menenun kain gringsing tersebut. Kain gringsing ini merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat Tenganan. Kain ini jika dijual harganya berkisaran sangat tinggi minimal Rp 800.000,00 hingga Rp 5.000.000,00. Kain ini bernama kain gringsing. Kain yang terkenal hingga ke mancanegara. Pembuatannyapun membutuhkan waktu yang lama hingga bertahun - tahun. Cara pengerjaan kain gringsing ini dikenal dengan teknik dobel ikat. Teknik tersebut merupakan satu - satunya teknik yang terkenal di Indonesia. Ada tiga Negara yang membuat kain gringsing ini, yang pertama Jepang, India, dan Indonesia yakni di Tenganan. Tidak diketahui pasti kapan kain gringsing tersebut muncul di desa Tenganan. Kain gringsing ada hubungannya dengan nama desa adat Tenganan yakni “Desa Adat Tenganan Pegringsingan”.
Masyarakat Tenganan memiliki kepercayaan terhadap kain gringsing ini. Kain gringsing berawal dari Dewa Indra pelindung dan guru kehidupan bagi masyarakat Tenganan. Dewa Indra kagum dengan keindahan langit di malam hari dan dia memaparkan keindahan tersebut melalui motif tenunan kepada rakyat pilihannya. Rakyatnya bukan sembarang rakyat, masyarakat Tenganan. Sangat sulit untuk menenun sebuah kain. Dewa Indra mengajarkan para wanita di desa Tenganan tersebut menguasai teknik menenun kain gringsing. Kain tenun yang berwarna gelap alami digunakan masyarakat untuk melaksanakan ritual keagamaan atau adat dan dipercaya memiliki kekuatan magis. Kain gringsing memiliki bentuk, fungsi dan makna estetis yang tinggi. Kain gringsing ini sendiri terbilang unik, otentik dan kini amat langka. Benang yang dipakai untuk menenun kain ini berasal dari kapas Bali asli. Selain bahannya yang langka, proses pembuatan kain ini juga terbilang amat rumit. Kain ini biasanya dipakai pada waktu upacara dimana dipercaya dengan memakai kain ini akan terhindar dari penyakit.

Selain kain gringsing yang memiliki kekuatan magic tinggi, kerbau juga dianggap memiliki kekuatan magic. Kerbau dalam situasi tertentu mungkin dianggap sebagai hal yang bodoh, lamban serta wajib dihina.  Jika kita datang ke desa Tenganan, kita dapat berjumpa dengan kerbau – kerbau yang bebas berkeliaran di pekarangan desa tersebut. Masyarakat setempat tidak boleh memeliharanya apalagi mencarikan makan kerbau – kerbau itu. Kerbau di desa Tenganan sangat diiistimewakan seperti di India yang dianggap suci. Di desa Tenganan masyarakatnya memiliki kepercayaan penuh terhadap berbagai mitos yang ada di desa tersebut termasuk mitos pada kerbau. Kerbau – kerbau yang ada di desa Tenganan dianggap suci dan masyarakat tidak berani untuk mengganggunya.
Kerbau – kerbau ini sering jalan – jalan sendiri, mencari makan sendiri. Anehnya, kerbau – kerbau ini tidak memiliki tuan dan berjumlah banyak sekali. Masyarakat Tenganan tidak boleh bertindak semena – mena terhadap kerbau ini  termasuk membunuh atau menyiksanya. Karena kata masyarakat Tenganan, kerbau ini datangnya dari Sanghyang Widhi. Begitulah kerbau digauli secara mistis simbolis. Dalam perspektif mitos menurut Levi Strauss kerbau pada masyarakat Tenganan memiliki fungsi sosial kultural yang khas, yakni membuat dunia dapat dijelaskan dan bahkan digunakan untuk menyelesaikan persoalan – persoalan dunia dan kontradiksi – kontradiksinya secara ajaib yang seolah – olah tidak masuk akal dalam realitas kehidupan nyata. Mitos kerbau pada masyarakat Tenganan dianggap memiliki sebuah kebudayaan yang bernilai tinggi. Keajaiban yang dikemas secara mistis membuat kerbau bermertamorfosa menjadi sistem pengkonstruksi makna dan bahkan mampu mengandung metabahasa akibat terjadinya persetubuhan intim antara kerbau dengan kompleksitas pemaknaan seseorang yang multitafsir. Kesadaran akan adanya kandungan metabahasa tersebut muncul karena apabila bersandar pada alam berpikir budaya masyarakat agraris pada waktu itu kerbau mampu merujuk bahkan dapat bermandikan kekayaan – kekayaan bahasa lain yang melekatinya. Kerbau – kerbau di desa Tenganan harus dibiarkan sampai tua dan sampai mati atau terkecuali dilakukan untuk upacara ritual. Konon kerbau yang mati tidak boleh dikubur sembarangan. Penguburan dilakukan oleh warga setempat yang terhimpun dalam kelompok Gumi Pulangan. Warga kelompok tersebut saat menguburkan kerbau tidak boleh memakai pakaian sembarangan, namun harus memakai pakaian adat lengkap desa Pegringsingan dan harus membawa keris. Kerbau yang hidup secara liar dalam lingkungan desa jika digunakan untuk keperluan upacara agama, juga harus diseleksi, dipilih yang betul – betul memenuhi syarat.
Menurut salah satu masyarakat Tenganan saat saya bertanya, kerbau yang bisa digunakan untuk upacara agama adalah kerbau jantan yang bersih tanpa noda. Dalam artian, binatang tersebut tidak boleh ada cacat fisiknya seperti luka.
Sebelum dipotong untuk upacara, kerbau tersebut terlebih dahulu diupacarai ke Pura Kandang, yang berlokasi di tengah perkampungan desa setempat. Usai upacara permohonan izin kepada Dewa Kerbau itu, barulah kerbau liar itu bisa dipotong.
Bahasa merupakan media menyampaikan pesan. Mitos juga disampaikan dengan bahasa dan mengandung pesan tertentu. Terbukti, kerbau dalam ritual – ritual adat dan bahkan simbol – simbol kebudayaan masyarakat tertentu menunjukkan bagaimana masyarakat mengkonseptualisasikan pesan kepentingannya untuk divisualisasikan dan disimbolkan dalam bentuk kerbau untuk disampaikan kepada Dewa Indra. Kerbau dalam konteks ini dihadirkan sebagai perwujudan konseptualisasi keyakinan sosial secara simbolik dan bahkan lebih dari itu kerbau dijadikan sebagai medium untuk menyatakan identitas diri, status, prestise dan nilai – nilai simbolik lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan kerbau yang dilekatkan dengan mitos sesungguhnya memiliki kemampuan membahasakan secara transendental isi logika kultural masyarakat pendukungnya sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap pola pandang, pola tindakan masyarakat terhadap dunianya. 
Selain itu dapat dikatakan pula bahwa melalui mitos kerbau inilah justru menjadi salah satu simpul kolektif yang begitu kokoh bagi masyarakat agraris pada waktu itu hingga kini. Cukup jelas kini melalui mistifikasi nilai – nilai yang melekat pada kebudayaan kerbau semakin menjadi abadi.
Lahirnya Desa Tenganan Pegringsingan berkaitan erat dengan kisah orang – orang desa Paneges memburu kuda Raja Bedahulu. Desa Paneges diyakini berada di daerah Bedulu, Gianyar, dekat dengan Pura Goa Gajah kini. Diceritakan, Raja Bedahulu memiliki kuda kesayangan yang bernama Kuda Once Srawa. Tatkala akan melaksanakan yadnya atau upacara, kuda sang Raja menghilang. Padahal, kuda ini bakal digunakan sebagai hewan korban dalam upacara tersebut. Untuk mencari Kuda Once Srawa, Raja Bedahulu pun menugasi para patih dan prajuritnya yang disebar ke segala arah. Orang – orang Paneges mendapatkan tugas mencari kuda kea rah timur. Ternyata, rombongan orang-orang Paneges ini berhasil menemukan kuda sang Raja. Kuda tersebut ditemukan di sebuah hutan lebat yang dikelilingi bukit – bukit kecil. Hanya yang menyedihkan kuda yang dikeramatkan itu ditemukan dalam keadaan sudah mati. Tidak diketahui sebab – sebab kematiannya. Tidak ada bekas luka, tidak ada tanda – tanda penyakit. Penemuan Kuda Once Srawa yang sudah mati itu pun dilaporkan kepada Raja Bedahulu. Sang Raja tentu saja bersedih hati. Namun, raja bijaksana itu tetap menghargai jasa – jasa orang – orang Paneges itu. Sebagai hadiah, mereka diberi kekuasaan atas tempat ditemukannya mayat kuda tersebut dengan luas sejauh bau busuk bangkai kuda itu bisa dicium.
Konon batu kuda Once Srawa yang tersebar di desa Tenganan tersebut tidak boleh diduduki oleh siapapun termasuk masyarakat Tenganan sendiri karena batu kuda tersebut merupakan titisan dari sang Raja Bedahulu.
Menurut Levi Strauss dalam memahami keberadaan masyarakat Tenganan, maka kisah Dewa Indra bagi sebagian orang Tenganan diyakini pernah terjadi di masa lampau. Kisah ini sendiri tetap bisa dipergunakan untuk memahami atau menerangkan apa yang sedang terjadi dan akan terjadi dalam masyarakat Tenganan. Bagi orang Tenganan, Dewa Indra pernah hidup di masa lampau dan sampai saat ini masih diyakini keberadaannya. Lewat mitos di atas, masyarakat diingatkan untuk melakukan ritual – ritual, memberikan penghormatan kepada kekuatan – kekuatan yang memberikan penjagaan dan kedamaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar