MENGUNGKAP KEPERCAYAAN MITOS MASYARAKAT TENGANAN PEGRINGSINGAN KARANGASEM BALI
Tenganan
adalah suatu nama desa tradisional bahkan masih dikatakan desa terpencil yang hanya
terdapat di Pulau Bali. Desa ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten
Karangasem sebelah timurnya Bali. Desa ini memiliki luas 917.200 hektar, sekitar 0,85%. Desa Tenganan
sangat jauh, berada di belakang bukit dan untuk pergi ke sananya melewati hutan
– hutan alas. Desa Tenganan adalah salah satu desa
yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada
aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan
besar bangunan serta pekarangan, pengaturan letak bangunan, hingga letak pura
dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun - temurun dipertahankan. Ketika
memasuki gerbang desa Tenganan, tampak jalan bebatuan begitu menghampar dan
tidak beraspal. Bangunan penduduk yang masih sangat tradisional dan pagar yang
memanjang nampak klasik berwarna kecoklatan karena terbuat dari tanah liat.
Seperti inilah yang dinamakan benar – benar desa. Di balik keindahan desa yang
menawan ini, desa Tenganan menyimpan beberapa mitos yang begitu menarik untuk
diteliti. Lewat mitos, masyarakat diingatkan untuk melakukan ritual – ritual, memberikan
penghormatan kepada kekuatan – kekuatan yang menciptakan perdamaian –
perdamaian.
Desa Tenganan didiami oleh penduduk Bali Aga
(Bali Asli) yang dipimpin oleh seorang Pemangku Adat. Di desa Tenganan terdapat
seorang Kepala Desa yang bernama I Putu Suaranyeng. Beliau tinggal di desa
tersebut dan sangat disegani oleh masyarakat. Masyarakat Tenganan sangat
menghormati tata ruang. Apabila ada perubahan harus dilakukan dengan musyawarah
bersama. “Ada aturan yang mengatur kepemilikan tanah secara pribadi dan tanah
tersebut diatur dalam hak bersama”, kata Pak Putu. Dalam pemukiman terdapat
enam deret rumah yang berhadapan. Ini mencirikan antara desa Tenganan dengan
desa luar (bukan desa Tenganan). Pak Putu juga menjelaskan pakaian orang kaya
dengan orang miskin setara, tidak ada yang membedakan mana yang kaya dan mana
yang miskin.
Kata
bapak – bapak yang duduk di semacam gazebo, umumnya masyarakat Tenganan
mayoritas bekerja sebagai petani padi, dan saat ini sebagai petani pemilik.
Mereka hanya sebagai tuan tanah atau pemilik tanah dan yang mengerjakan sawah
mereka biasanya orang dari luar desa Tenganan. Di sini juga terdapat kebun dan
hutan yang luasnya kira – kira 79 hektar. Tetapi saat saya meneliti di sana,
saya tidak menemukan sawah tempat para masyarakat bercocok tanam, mungkin
tempatnya agak jauh. Yang saya temukan adalah para ibu yang berkutat menenun
dengan kainnya. Hampir semua perempuan berkecimpung didalam menenun kain
gringsing tersebut. Kain gringsing ini merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat
Tenganan. Kain ini jika dijual harganya berkisaran sangat tinggi minimal Rp
800.000,00 hingga Rp 5.000.000,00. Kain ini bernama kain gringsing. Kain yang
terkenal hingga ke mancanegara. Pembuatannyapun membutuhkan waktu yang lama
hingga bertahun - tahun. Cara pengerjaan kain gringsing ini dikenal dengan
teknik dobel ikat. Teknik tersebut merupakan satu - satunya teknik yang
terkenal di Indonesia. Ada tiga Negara yang membuat kain gringsing ini, yang
pertama Jepang, India, dan Indonesia yakni di Tenganan. Tidak diketahui pasti
kapan kain gringsing tersebut muncul di desa Tenganan. Kain gringsing ada
hubungannya dengan nama desa adat Tenganan yakni “Desa Adat Tenganan Pegringsingan”.
Masyarakat
Tenganan memiliki kepercayaan terhadap kain gringsing ini. Kain gringsing
berawal dari Dewa Indra pelindung dan guru kehidupan bagi masyarakat Tenganan.
Dewa Indra kagum dengan keindahan langit di malam hari dan dia memaparkan
keindahan tersebut melalui motif tenunan kepada rakyat pilihannya. Rakyatnya
bukan sembarang rakyat, masyarakat Tenganan. Sangat sulit untuk menenun sebuah
kain. Dewa Indra mengajarkan para wanita di desa Tenganan tersebut menguasai
teknik menenun kain gringsing. Kain tenun yang berwarna gelap alami digunakan
masyarakat untuk melaksanakan ritual keagamaan atau adat dan dipercaya memiliki
kekuatan magis. Kain gringsing memiliki bentuk, fungsi dan makna estetis yang
tinggi. Kain gringsing ini sendiri terbilang unik, otentik dan kini amat
langka. Benang yang dipakai untuk menenun kain ini berasal dari kapas Bali
asli. Selain bahannya yang langka, proses pembuatan kain ini juga terbilang
amat rumit. Kain ini biasanya dipakai pada waktu upacara dimana dipercaya
dengan memakai kain ini akan terhindar dari penyakit.
Selain
kain gringsing yang memiliki kekuatan magic tinggi, kerbau juga dianggap
memiliki kekuatan magic. Kerbau dalam situasi tertentu mungkin dianggap sebagai
hal yang bodoh, lamban serta wajib dihina. Jika kita datang ke desa Tenganan,
kita dapat berjumpa dengan kerbau – kerbau yang bebas berkeliaran di pekarangan
desa tersebut. Masyarakat setempat tidak boleh memeliharanya apalagi mencarikan
makan kerbau – kerbau itu. Kerbau di desa Tenganan sangat diiistimewakan
seperti di India yang dianggap suci. Di desa Tenganan masyarakatnya memiliki
kepercayaan penuh terhadap berbagai mitos yang ada di desa tersebut termasuk
mitos pada kerbau. Kerbau – kerbau yang ada di desa Tenganan dianggap suci dan
masyarakat tidak berani untuk mengganggunya.
Kerbau – kerbau ini sering jalan – jalan sendiri, mencari
makan sendiri. Anehnya, kerbau – kerbau ini tidak memiliki tuan dan berjumlah
banyak sekali. Masyarakat Tenganan tidak boleh bertindak semena – mena terhadap
kerbau ini termasuk membunuh atau
menyiksanya. Karena kata masyarakat Tenganan, kerbau ini datangnya dari
Sanghyang Widhi. Begitulah kerbau digauli secara mistis simbolis. Dalam
perspektif mitos menurut Levi Strauss kerbau pada masyarakat Tenganan memiliki
fungsi sosial kultural yang khas, yakni membuat dunia dapat dijelaskan dan
bahkan digunakan untuk menyelesaikan persoalan – persoalan dunia dan
kontradiksi – kontradiksinya secara ajaib yang seolah – olah tidak masuk akal
dalam realitas kehidupan nyata. Mitos kerbau pada masyarakat Tenganan dianggap
memiliki sebuah kebudayaan yang bernilai tinggi. Keajaiban yang dikemas secara
mistis membuat kerbau bermertamorfosa menjadi sistem pengkonstruksi makna dan
bahkan mampu mengandung metabahasa akibat
terjadinya persetubuhan intim antara kerbau dengan kompleksitas pemaknaan
seseorang yang multitafsir. Kesadaran
akan adanya kandungan metabahasa tersebut muncul karena apabila bersandar pada
alam berpikir budaya masyarakat agraris pada waktu itu kerbau mampu merujuk
bahkan dapat bermandikan kekayaan – kekayaan bahasa lain yang melekatinya. Kerbau
– kerbau di desa Tenganan harus dibiarkan sampai tua dan sampai mati atau
terkecuali dilakukan untuk upacara ritual. Konon kerbau yang mati tidak boleh
dikubur sembarangan. Penguburan dilakukan oleh warga setempat yang terhimpun
dalam kelompok Gumi Pulangan. Warga kelompok tersebut saat menguburkan kerbau
tidak boleh memakai pakaian sembarangan, namun harus memakai pakaian adat
lengkap desa Pegringsingan dan harus membawa keris. Kerbau yang hidup secara
liar dalam lingkungan desa jika digunakan untuk keperluan upacara agama, juga
harus diseleksi, dipilih yang betul – betul memenuhi syarat.
Menurut salah satu masyarakat Tenganan saat saya bertanya, kerbau
yang bisa digunakan untuk upacara agama adalah kerbau jantan yang bersih tanpa
noda. Dalam artian, binatang tersebut tidak boleh ada cacat fisiknya seperti
luka.
Sebelum
dipotong untuk upacara, kerbau tersebut terlebih dahulu diupacarai ke Pura
Kandang, yang berlokasi di tengah perkampungan desa setempat. Usai upacara
permohonan izin kepada Dewa Kerbau itu, barulah kerbau liar itu bisa dipotong.
Bahasa merupakan media menyampaikan pesan. Mitos juga
disampaikan dengan bahasa dan mengandung pesan tertentu. Terbukti, kerbau dalam
ritual – ritual adat dan bahkan simbol – simbol kebudayaan masyarakat tertentu
menunjukkan bagaimana masyarakat mengkonseptualisasikan pesan kepentingannya
untuk divisualisasikan dan disimbolkan dalam bentuk kerbau untuk disampaikan
kepada Dewa Indra. Kerbau dalam konteks ini dihadirkan sebagai perwujudan
konseptualisasi keyakinan sosial secara simbolik dan bahkan lebih dari itu
kerbau dijadikan sebagai medium untuk menyatakan identitas diri, status, prestise
dan nilai – nilai simbolik lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan kerbau yang dilekatkan
dengan mitos sesungguhnya memiliki kemampuan membahasakan secara transendental
isi logika kultural masyarakat pendukungnya sehingga mampu memberikan pengaruh
terhadap pola pandang, pola tindakan masyarakat terhadap dunianya.
Selain itu dapat dikatakan pula bahwa melalui mitos kerbau
inilah justru menjadi salah satu simpul kolektif yang begitu kokoh bagi
masyarakat agraris pada waktu itu hingga kini. Cukup jelas kini melalui
mistifikasi nilai – nilai yang melekat pada kebudayaan kerbau semakin menjadi
abadi.
Lahirnya Desa Tenganan
Pegringsingan berkaitan erat dengan kisah orang – orang desa Paneges memburu
kuda Raja Bedahulu. Desa Paneges diyakini berada di daerah Bedulu, Gianyar,
dekat dengan Pura Goa Gajah kini. Diceritakan, Raja Bedahulu memiliki kuda
kesayangan yang bernama Kuda Once Srawa. Tatkala akan melaksanakan yadnya atau upacara, kuda sang Raja
menghilang. Padahal, kuda ini bakal digunakan sebagai hewan korban dalam
upacara tersebut. Untuk mencari Kuda Once Srawa, Raja Bedahulu pun menugasi
para patih dan prajuritnya yang disebar ke segala arah. Orang – orang Paneges
mendapatkan tugas mencari kuda kea rah timur. Ternyata, rombongan orang-orang
Paneges ini berhasil menemukan kuda sang Raja. Kuda tersebut ditemukan di
sebuah hutan lebat yang dikelilingi bukit – bukit kecil. Hanya yang menyedihkan
kuda yang dikeramatkan itu ditemukan dalam keadaan sudah mati. Tidak diketahui
sebab – sebab kematiannya. Tidak ada bekas luka, tidak ada tanda – tanda
penyakit. Penemuan Kuda Once Srawa yang sudah mati itu pun dilaporkan kepada
Raja Bedahulu. Sang Raja tentu saja bersedih hati. Namun, raja bijaksana itu
tetap menghargai jasa – jasa orang – orang Paneges itu. Sebagai hadiah, mereka
diberi kekuasaan atas tempat ditemukannya mayat kuda tersebut dengan luas
sejauh bau busuk bangkai kuda itu bisa dicium.
Konon batu kuda Once
Srawa yang tersebar di desa Tenganan tersebut tidak boleh diduduki oleh
siapapun termasuk masyarakat Tenganan sendiri karena batu kuda tersebut
merupakan titisan dari sang Raja Bedahulu.
Menurut
Levi Strauss dalam memahami keberadaan masyarakat Tenganan, maka kisah Dewa
Indra bagi sebagian orang Tenganan diyakini pernah terjadi di masa lampau.
Kisah ini sendiri tetap bisa dipergunakan untuk memahami atau menerangkan apa
yang sedang terjadi dan akan terjadi dalam masyarakat Tenganan. Bagi orang
Tenganan, Dewa Indra pernah hidup di masa lampau dan sampai saat ini masih
diyakini keberadaannya. Lewat mitos di atas, masyarakat diingatkan untuk
melakukan ritual – ritual, memberikan penghormatan kepada kekuatan – kekuatan
yang memberikan penjagaan dan kedamaian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar